Kapribaden Header
Home Romo Herucokro Semono Kapribaden Organisasi Pengalaman Sejati Tanya Jawab F.A.Q. Kontak
 
Home » Kapribaden » Buku Hidup Bahagia » Halaman 19
 
Buku Hidup Bahagia
   
Halaman : [1] ... [17] [18] [19] [20] [21]... [33]
 

 

Mijil untuk pertama kali

Untuk pertama kali, sesudah Hidup anda diberi “Asmo”, Mijilnya adalah sebagai berikut.

(Asmo) jeneng siro mijilo, panjenengan Ingsun kagungan karso, “arso mbekso beksaniro pribadi”

(Ini standar, jadi siapapun, untuk pertama kali mijil, mijilnya begini. Termasuk mereka yang orang asing / bukan orang Indonesia).


Sikap (patrap) Mijil

Kalau keadaan memungkinkan, artinya sedang sendirian, atau dalam lingkungan kadhang sendiri, maka Mijil dengan sikap (patrap) tertentu.

Tangan di depan ulu hati, semua jari mengarah ke atas, telapak tangan menghadap ke kiri. Tangan kiri diletakkan di pinggang sebelah kiri, seperti orang bertolak pinggang.

Sikap (patrap) itu, merupakan lambang. Lambang pengakuan, bahwa sekalipun Hidup itu berasal dari Tuhan, tetapi Raga kita berasal dari Bapak dan Ibu.
(Lihat gambar 2)

 

Sikap (patrap) Mijil
Gambar 2 - Patrap Mijil

 

Waktu Mijil pertama kali, yaitu Mijil Mbekso beksaniro pribadi kedua lengan dan tangan atau anggota badan lain, bergerak, ikuti saja.

Jangan ditahan-tahan. Rasakan betul bagaimana rasanya kalau Mijil.

Rasa yang demikian itulah yang menandakan bahwa anda Mijil (Hidup dan raga, benar benar menyatu, saling berhubungan).

Rasa itu (rasa Mijil), harus benar benar dikenali (“dhititeni”), karena pada saat dan keadaan biasa, anda Mijil tanpa ada gerakan, yang ada hanya Rasa Mijil itu.

Untuk Mijil yang pertama kali, pada umumnya perlu dituntun oleh kadhang. Salah kaprah dikatakan Mijilake (me-Mijil-kan). Padahal sebenarnya, Hidup itu Mijil sendiri dengan Raganya.

Maka, lebih tepat dikatakan, bahwa Kadhang yang lebih dulu menghayati itu, “menuntun caranya Mijil”. Bukan me-Mijil-kan (mijilake).


 
Anda Pengunjung Ke : 367547
Copyright © 2005-2008 Kapribaden - V.1. All rights reserved.